Oleh: Risan Samak Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Sanana.
Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 seharusnya menjadi momentum refleksi mendalam bagi seluruh kader. Di usia yang semakin tua ini , HMI di tuntut bukan hanya mendalami sejarah semata, tetapi harus mampu menjawab tantangan zaman saat ini. Namun realitas hari ini menunjukkan sangatlah ironi: kita terlalu sibuk berebut kursi jabatan, sampai lupa bahwa secara kualitas dan kontribusi, kita saat ini justru sangat tertinggal jauh dari sebelumnya.
HMI yang lahir dari rahim perjuangan dan idealisme seharusnya menjadi kepercayaan masyarakat, bukan sekadar arena kontestasi kekuasaan internal. Tradisi intelektual sangatlah melemah, diskusi keumatan dan kebangsaan semakin rapuh di ruang-ruang intelektual, sementara semangat kader sudah mulai memudar dan tergeser oleh zaman dan egoisme personal dalam pragmatisme politik.
Di tengah cepatnya perubahan zaman perkembangan teknologi, tantangan ekonomi, krisis moral, dan problem sosial, HMI tidak boleh terjebak oleh romantisme masa lalu. Jika energi kader hanya habis untuk konflik internal dan perebutan jabatan, maka HMI akan kehilangan ruh perjuangannya dan tertinggal jauh dari realitas umat dan bangsa.

Milad ke-79 ini harus menjadi alarm bersama. Saatnya HMI kembali ke khittah perjuangan: memperkuat kualitas kader, menghidupkan tradisi intelektual, dan hadir nyata di tengah persoalan masyarakat. Jabatan hanyalah alat, bukan tujuan. Tanpa nilai, tanpa gagasan, dan tanpa pengabdian, jabatan tidak lebih dari simbol kosong.
HMI harus kembali menjadi rumah besar perjuangan, bukan sekadar tangga menuju kepentingan pribadi. Jika tidak, maka kita bukan hanya gagal memaknai milad, tetapi juga gagal menjaga amanah perjuangan.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !